Meramu Kamu
Hai tuan,
Akhirnya kau sadar tentang rasaku. Kau tau tuan, sebenarnya
aku hanya ingin memanipulasi semua ini, aku tak mau kau tau semua ini, terlebih
kau menjauhiku. Kau tau tuan, hanya dengan melihatmu tersenyum tulus saja, aku
sudah bahagia.
Tuan, semua yang terjadi belakangan ini bak sebuah drama
yang di tuliskan tuhan kembali untuk menguji kekuatan hatiku yang mungkin belum
sembuh sepenuhnya. Masih ada serpihan luka dan bekas yang belum jua mengering
walaupun sudah bertahun-tahun lamanya.
Tuan, aku tak memintamu untuk menetapkan hatimu kepadaku,
membalas rasaku. Aku tak mau kau mengasihaniku karena terlebih dulu memendam
rasa kepadamu. Kau tau tuan, aku tak sekuat yang kau lihat selama ini, segala
ketakutan-ketakutanku di masa lalu kini kembali lagi.
Tuan, jika memang kesempatan itu tak ada untukku tak apa.
Aku tak menuntut balasan akan rasa ini. Aku terlalu bahagia bisa merasakan
manis pahitnya cinta lagi. Tapi kumohon, jangan nyalakan lilin harapan jika
memang kau tak memiliki rasa yang sama. Aku tak mau ada keterpaksaan disini,
aku tak mau kau kasihani.
Tuan, Cukuplah aku menjadi seseorang yang menyayangimu,
bahagia melihat tawamu, dan orang yang akan selalu jadi pendukungmu walaupun
semua orang di luar sana selalu membicarakan seluruh keburukanmu.
0 komentar