Welcome to our website !
Aku lupa, kapan terakhir kalinya bisa merasakan rasa senyaman ini kepada seseorang. Mungkin setahun, dua tahun, atau lima tahun yang lalu? Entahlah yang jelas saat ini aku tak ingin orang yang membuatku nyaman kali ini pergi menjauh (lagi).

Tuan...

Sosokmu kini semakin terlihat jelas, aku tak tau berapa banyak orang yang mempengaruhiku untuk menjauhimu dan bilang bahwa yang aku rasakan sebenarnya bukanlah rasa sayang, terlebih cinta. Aku hanya terpaku karena melihat sosokku yang ada di dalam dirimu (katanya).

Tuan....

Aku tak tau seberapa besar lukamu di masalalu itu, yang jelas sepertinya kau sudah tak lagi mempermasalahkan masalalumu itu. Hanya saja kau masih saja takut dan tak percaya akan dirimu, sehingga itu yang selalu membuatmu memiliki perasaan takut dan memiliki banyak pertimbangan untuk melangkah maju.

Tuan....

Aku selalu sok-sok an kuat untuk mengikhlaskanmu untuk orang lain, padahal pada kenyataannya, air mataku selalu jatuh ketika ungkapan itu usai aku ucapkan. Membayangkan dirimu dengan yang lain saja sudah membuat ulu hatiku nyeri luar biasa apalagi kalau itu benar-benar terjadi, sepertinya aku membutuhkan waktu yang lama untuk bisa mengikhlaskannya.

Tuan....

Sepertinya diriku sudah terjatuh sejatuh-jatuhnya akan sosokmu, bayanganmu kian hari kian nyata dalam benakku. Aku tak tau apa sebenarnya yang kau lakukan kepadaku sehingga dengan sialnya aku terperangkap dalam pesonamu itu.

Tuan....

Aku tak mengizinkanmu pergi untuk saat ini, biarkan aku bertahan dengan perasaanku yang kian hari kian menggebu ini. Biarlah garis takdir tuhan yang akan menjawab semua pertanyaan akan kisah ini selanjutnya, izinkan aku menikmati kebahagiaan ini yang aku tak tahu sampai kapan batas waktunya.

Tuan....

Bolehkah aku tau sebenarnya apa yang ada dalam hati dan fikiranmu? Aku bukanlah dukun yang bisa membaca itu tanpa kau harus susah-susah menjelaskannya. Kadang rasa penasaranku ini selalu menumbuhkan praduga-praduga negatif yang berujung pada rasa sakit pada hatiku sendiri.

Tuan....

Aku dan kamu adalah sepasang bayang yang menghilang, diantara rimbun padang ilalang, buta arah seperti yang mereka bilang. 

Tuan.....

Izinkan rasa ini bertahan hingga nanti dia yang akan memilih sendiri kemana jalannya untuk pulang.




Akhirnya malam ini aku kembali mempelajari ilmu ikhlas. Tuan, aku turut senang mendengarnya. Aku tak tahu ini air mata sedih atau bahagia, yang jelas aku akan belajar untuk ikhlas menerimanya. Seperti yang aku katakan padamu di tulisanku awal ini, aku tak mengharapkan bentuk balasan apapun darimu.

Tuan, apakah gadis itu lebih baik, lebih cantik? Ah kenapa aku jadi di buat penasaran olehnya. Jelas gadis itu lebih baik ya tuan :).  Sepertinya aku terlambat lagi masuk ke dalam duniamu, ke dalam hatimu. Selalu ada yang lebih dulu yang menarik perhatianmu.

Tuan, mungkin saja kau bukan jodoh yang di tulis oleh tuhan untukku. Aku tak menyesal selalu menyebut namamu dalam hati dan do’aku selama ini. Anggap saja itu hadiah dariku jadi kau jangan permasalahkan ini. 

Tuan, jangan dengarkan kata mereka untuk hidupmu. Percayalah sama hatimu, mantapkan namanya dalam isi hati dan fikiranmu. Aku turut mengaminkan segala harapan dan kebahagiaan kalian untuk masa depan. Semoga ketika bertemu suatu hari nanti, aku tetap menjadi pribadi yang kuat seperti yang selama ini kau lihat, tidak malah menjauh untuk tak terlihat.

Tuan, aku akan mulai membiasakan diriku lagi seperti awal mengenalmu dulu. Tak terlalu ikut campur akan duniamu, dan semoga kau bahagia dengan wanita pilihanmu.

Aku tau semua ini pasti akan terjadi ketika kau tau tentang rasaku ini, ketauilah tuan, aku tak akan pernah memaksamu untuk tinggal dan memilihku. Kau tak perlu takut ataupun kasihan kepadaku. Aku tak apa, aku sudah terbiasa membumbui hatiku dengan perasaan sakit hati. Jadi mungkin saja aku sudah di buat kebal olehnya.

Tuan.....

Aku terima keputusanmu untuk menjauh, aku tahu tak mudah menerima  seseorang yang tiba-tiba hadir dalam hidupmu membawa cinta. Mungkin saja kau butuh waktu untuk bisa menerima ini semua, maafkan aku akan semua ini tuan. Aku tak bermaksud membuatmu bingung dan memikirkan semua ini.

Tuan....

Anggap saja aku ini penggemarmu yang tidak mengharapkan balasan apa-apa darimu, jadi kau tak perlu mencari-cari alasan untuk pergi menjauh dari dunia komunitas yang kau cintai selama ini hanya karena tak ingin menyalakan cahaya harapan untukku.

Aku bisa mengerti semua ini tuan, tenanglah. Aku bukan gadis ABG yang labil akan cinta. Bagiku, cinta itu tak harus memiliki dan aku sudah mempersiapkan segala sesuatu ini sebelum kau tau sebenarnya. Jadi tenanglah, aku tak akan menuntut apapun darimu.

Hiduplah kembali dengan normal, anggap saja kemarin hanyalah angin lalu yang tidak memberikan efek apa-apa dalam hidupmu. Kau tak perlu menjauh, jika kecanggungan yang kau fikirkan, percayalah...semua ini hanyalah urusan waktu.

Biasakanlah semua keadaan ini jangan menjauh, kau taakan mendapatkan sahabat-sahabat baik sebaik sahabatmu di negerimu sendiri saat ini, tuan. Maafkan aku.

Hai tuan,

Akhirnya kau sadar tentang rasaku. Kau tau tuan, sebenarnya aku hanya ingin memanipulasi semua ini, aku tak mau kau tau semua ini, terlebih kau menjauhiku. Kau tau tuan, hanya dengan melihatmu tersenyum tulus saja, aku sudah bahagia.

Tuan, semua yang terjadi belakangan ini bak sebuah drama yang di tuliskan tuhan kembali untuk menguji kekuatan hatiku yang mungkin belum sembuh sepenuhnya. Masih ada serpihan luka dan bekas yang belum jua mengering walaupun sudah bertahun-tahun lamanya.

Tuan, aku tak memintamu untuk menetapkan hatimu kepadaku, membalas rasaku. Aku tak mau kau mengasihaniku karena terlebih dulu memendam rasa kepadamu. Kau tau tuan, aku tak sekuat yang kau lihat selama ini, segala ketakutan-ketakutanku di masa lalu kini kembali lagi.

Tuan, jika memang kesempatan itu tak ada untukku tak apa. Aku tak menuntut balasan akan rasa ini. Aku terlalu bahagia bisa merasakan manis pahitnya cinta lagi. Tapi kumohon, jangan nyalakan lilin harapan jika memang kau tak memiliki rasa yang sama. Aku tak mau ada keterpaksaan disini, aku tak mau kau kasihani.

Tuan, Cukuplah aku menjadi seseorang yang menyayangimu, bahagia melihat tawamu, dan orang yang akan selalu jadi pendukungmu walaupun semua orang di luar sana selalu membicarakan seluruh keburukanmu.