Aku lupa, kapan terakhir kalinya bisa merasakan rasa senyaman ini kepada seseorang. Mungkin setahun, dua tahun, atau lima tahun yang lalu? Entahlah yang jelas saat ini aku tak ingin orang yang membuatku nyaman kali ini pergi menjauh (lagi).
Tuan...
Sosokmu kini semakin terlihat jelas, aku tak tau berapa banyak orang yang mempengaruhiku untuk menjauhimu dan bilang bahwa yang aku rasakan sebenarnya bukanlah rasa sayang, terlebih cinta. Aku hanya terpaku karena melihat sosokku yang ada di dalam dirimu (katanya).
Tuan....
Aku tak tau seberapa besar lukamu di masalalu itu, yang jelas sepertinya kau sudah tak lagi mempermasalahkan masalalumu itu. Hanya saja kau masih saja takut dan tak percaya akan dirimu, sehingga itu yang selalu membuatmu memiliki perasaan takut dan memiliki banyak pertimbangan untuk melangkah maju.
Tuan....
Aku selalu sok-sok an kuat untuk mengikhlaskanmu untuk orang lain, padahal pada kenyataannya, air mataku selalu jatuh ketika ungkapan itu usai aku ucapkan. Membayangkan dirimu dengan yang lain saja sudah membuat ulu hatiku nyeri luar biasa apalagi kalau itu benar-benar terjadi, sepertinya aku membutuhkan waktu yang lama untuk bisa mengikhlaskannya.
Tuan....
Sepertinya diriku sudah terjatuh sejatuh-jatuhnya akan sosokmu, bayanganmu kian hari kian nyata dalam benakku. Aku tak tau apa sebenarnya yang kau lakukan kepadaku sehingga dengan sialnya aku terperangkap dalam pesonamu itu.
Tuan....
Aku tak mengizinkanmu pergi untuk saat ini, biarkan aku bertahan dengan perasaanku yang kian hari kian menggebu ini. Biarlah garis takdir tuhan yang akan menjawab semua pertanyaan akan kisah ini selanjutnya, izinkan aku menikmati kebahagiaan ini yang aku tak tahu sampai kapan batas waktunya.
Tuan....
Bolehkah aku tau sebenarnya apa yang ada dalam hati dan fikiranmu? Aku bukanlah dukun yang bisa membaca itu tanpa kau harus susah-susah menjelaskannya. Kadang rasa penasaranku ini selalu menumbuhkan praduga-praduga negatif yang berujung pada rasa sakit pada hatiku sendiri.
Tuan....
Aku dan kamu adalah sepasang bayang yang menghilang, diantara rimbun padang ilalang, buta arah seperti yang mereka bilang.
Tuan.....
Izinkan rasa ini bertahan hingga nanti dia yang akan memilih sendiri kemana jalannya untuk pulang.


